Signal Todays

Main Menu

  • Beranda
  • News
  • Pendidikan
  • Loker
  • Olahraga
  • Politik
  • Lifestyle
    • Film
    • Kesehatan
    • Tips and Trik
  • Traveller
  • UMKM
  • Opini
    • Cendekia
Sign in / Join

Login

Welcome! Login in to your account
Lost your password?

Lost Password

Back to login

logo

Header Banner

Signal Todays

  • Beranda
  • News
  • Pendidikan
  • Loker
  • Olahraga
  • Politik
  • Lifestyle
    • Film
    • Kesehatan
    • Tips and Trik
  • Traveller
  • UMKM
  • Opini
    • Cendekia
  • Panduan Memilih Kampus Hukum Bisnis Terbaik di Bekasi

  • Fenomena Homeless Media di Bekasi: Era Baru Informasi Lokal Tanpa “Rumah”

  • Kalah Tragis, Peluang Juara Macan Kemayoran Resmi Sirna

  • Hasil Persija vs Persib 1-2: Brace Adam Alis Antar Maung Bandung Kian Dekat ke Tangga Juara

  • Dosen UBSI Gelar Pengabdian Masyarakat tentang Manajemen Keuangan untuk Lembaga ABK Kazama Tambun Selatan

  • Revolusi Kesehatan Mental: Cyber University Integrasikan AI dan Mindfulness dalam AI Summit 2025

  • Lebih dari Sekadar Bumbu Dapur, Ini 5 Manfaat Daun Salam untuk Kesehatan yang Jarang Diketahui

  • Jemput Masa Depan, UBSI Bekasi Sosialisasi Beasiswa Jalur Undangan di SMK Teratai Putih Global 2

  • Berbagi Sesama Insan UBSI Bekasi: Kolaborasi Mahasiswa dan Dosen Hadirkan Kepedulian untuk Yatim dan Duafa

  • Santunan Ramadhan UBSI Cikarang 2026: Berbagi Sesama Insan di Bulan Penuh Berkah

CendekiaOpini
Home›Opini›Cendekia›Banjir Tanpa Sebab, Kayu Tanpa Asal: Ketika Negara Menyangkal Jejak di Hulu

Banjir Tanpa Sebab, Kayu Tanpa Asal: Ketika Negara Menyangkal Jejak di Hulu

By Daya
21 December 2025
233
0
Share:
Banjir Tanpa Sebab, Kayu Tanpa Asal: Ketika Negara Menyangkal Jejak di Hulu

Oleh Suhardi | Dosen Universitas Bina Sarana Informatika

signaltodays.com_ Penyebab Banjir Sumatra akibat Pemerintah lalai. Ada pemandangan yang sulit diabaikan dari Aceh Tamiang: ribuan batang kayu gelondongan menumpuk rapi, tertahan bangunan pesantren. Seolah sungai berubah menjadi jalur distribusi kayu raksasa. Namun di tengah visual yang nyaris tak terbantahkan itu, negara justru menyampaikan satu kesimpulan yang terdengar meyakinkan sekaligus menggelitik nalar Penyebab Banjir Sumatra tidak berkaitan dengan pembalakan liar.

Pernyataan ini tentu patut dicatat sebagai prestasi narasi. Sebab, jarang sekali kita menyaksikan kayu-kayu berdiameter besar mampu berpindah dari hulu ke hilir, melintasi sungai dan desa, tanpa pernah bersentuhan dengan aktivitas manusia. Jika benar demikian, maka kita mungkin harus merevisi banyak buku pelajaran tentang ekologi, sebab-akibat, dan logika dasar.

Kementerian Kehutanan—dengan segala otoritas dan perangkat datanya—seolah ingin meyakinkan publik bahwa banjir hanyalah peristiwa alamiah yang berdiri sendiri. Hujan turun, sungai meluap, kayu kebetulan ikut hanyut. Sederhana, bersih, dan bebas dari campur tangan manusia. Masalahnya, alam jarang bekerja sesederhana siaran pers.

Dalam konteks Sumatra, banjir bukanlah cerita baru. Hampir setiap tahun, wilayah-wilayah di Aceh, Sumatra Barat, hingga Sumatra Selatan menghadapi pola yang sama. Hujan lebat, sungai meluap, lalu kayu-kayu besar muncul entah dari mana. Anehnya, pola ini terus berulang, sementara penjelasan resminya nyaris tak pernah berubah.

Baca Juga: Pertemuan Antara Rasa dan Makna

Tentu, tidak semua banjir disebabkan pembalakan liar. Itu benar. Namun menafikan hubungan antara kerusakan hutan dan bencana hidrologi sama berbahayanya dengan menutup mata saat alarm berbunyi. Ketika daerah aliran sungai kehilangan tutupan hutan, tanah kehilangan daya serap, dan kayu-kayu tak lagi tertahan di hulu. Maka banjir bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan.

Mulut Pemerintah yang tak Peka

Alam tampak bekerja lebih jujur dibanding birokrasi. Ia menghadirkan bukti visual: kayu gelondongan, lumpur, arus deras, dan kerusakan. Sementara negara justru sibuk memilah diksi—apakah ini “pembalakan liar”, “kayu terbawa arus”, atau sekadar “material alami”. Seakan-akan bencana bisa diredam dengan pilihan kata yang tepat.

Bagi masyarakat di hilir, perdebatan istilah ini terasa jauh dari realitas. Mereka kehilangan rumah, akses jalan, air bersih, bahkan rasa aman. Pesantren yang tertimbun kayu mungkin menjadi simbol ketahanan, tetapi juga menjadi monumen sunyi dari kegagalan pengelolaan hutan di hulu.

BacaJuga: Penipuan Berkedok Cluster Syariah di Kabupaten Karawang

Kementerian Kehutanan seharusnya tidak sekadar hadir sebagai juru bicara yang menenangkan. Publik menunggu lebih dari itu: transparansi data, penelusuran asal kayu, evaluasi izin konsesi, dan keberanian menyebut masalah dengan nama aslinya. Sebab, menyangkal masalah tidak akan membuatnya hilang; ia hanya menunggu hujan berikutnya.

Jika setiap banjir selalu dianggap sebagai peristiwa alam murni, maka kita sedang membangun tradisi berbahaya. Tradisi mengulang bencana tanpa pernah belajar. Negara tidak kehilangan wibawa ketika mengakui keterkaitan antara kebijakan, pengawasan hutan, dan dampak lingkungan. Justru sebaliknya, wibawa runtuh ketika publik merasa kecerdasannya diremehkan.

Aceh Tamiang hari ini bukan sekadar kabar banjir. Ia adalah cermin. Pertanyaannya, apakah kita berani menatap pantulan itu—atau kembali menyalahkan hujan, sambil membiarkan kayu-kayu berikutnya bersiap hanyut?

Tagsbanjir Aceh Tamiangbanjir dan deforestasibanjir Sumatra pembalakan liarkayu gelondongan Acehkementerian kehutanan Indonesiakerusakan hutan Sumatrakritik kebijakan kehutananlingkungan dan kebijakan publikpembalakan liar Indonesiatajuk rencana lingkungan
Previous Article

Dampak Negatif Screen Time Berlebihan bagi Anak ...

Next Article

Pelatihan Web Design WordPress untuk Meningkatkan Pengelolaan ...

0
Shares
  • 0
  • +
  • 0
  • 0
  • 0
  • 0

Daya

Related articles More from author

  • Lautan Kayu Gelondongan Tertahan di Bangunan Pesantren
    News

    Lautan Kayu Gelondongan Tertahan di Bangunan Pesantren, Banjir Aceh Tamiang Jadi Sorotan

    19 December 2025
    By Daya
  • Pentingnya Konseling Pendidikan untuk Mahasiswa dan Manfaatnya
    CendekiaPendidikan

    Pentingnya Konseling Pendidikan untuk Mahasiswa dan Manfaatnya

    3 June 2024
    By Daya
  • tips mendaki
    Cendekia

    7 Tips Memilih Sepatu untuk Pendaki Pemula dari Perspektif Pendaki Profesional

    6 December 2025
    By Daya
  • 7 Keunikan Kota Karawang yang Perlu Diketahui
    CendekiaOpini

    7 Keunikan Kota Karawang yang Perlu Diketahui

    11 August 2025
    By Daya
  • Syech Quro Karawang: Ulama Penyebar Islam di Tanah Jawa
    Cendekia

    Syech Quro Karawang: Ulama Penyebar Islam di Tanah Jawa

    20 August 2025
    By Daya
  • CendekiaOpini

    Tren Penggunaan QRIS Bagi Generasi Z: Peluang dan Tantangan

    5 May 2024
    By Daya

Artikel Terbaru

  • 13 May 2026

    Panduan Memilih Kampus Hukum Bisnis Terbaik di Bekasi

  • 12 May 2026

    Fenomena Homeless Media di Bekasi: Era Baru Informasi Lokal Tanpa “Rumah”

  • 11 May 2026

    Kalah Tragis, Peluang Juara Macan Kemayoran Resmi Sirna

  • 11 May 2026

    Hasil Persija vs Persib 1-2: Brace Adam Alis Antar Maung Bandung Kian Dekat ke Tangga Juara

  • 2 May 2026

    Dosen UBSI Gelar Pengabdian Masyarakat tentang Manajemen Keuangan untuk Lembaga ABK Kazama Tambun Selatan

logo

SignalTodays adalah situs berita online Indonesia yang dipublikasikan oleh PT. Signal Indonesia.

Situs berita online dengan tagline “Transparan dan Terpercaya”

Tentang Kami

  • Informasi Publish Berita : 0812 81818 516
  • info@signaltodays.com
  • Tim Redaksi

Ikuti Kami

  • Tim Redaksi
© Copyright SignalTodays. All rights reserved.