Signal Todays

Main Menu

  • Beranda
  • News
  • Pendidikan
  • Loker
  • Olahraga
  • Politik
  • Lifestyle
    • Film
    • Kesehatan
    • Tips and Trik
  • Traveller
  • UMKM
  • Opini
    • Cendekia
Sign in / Join

Login

Welcome! Login in to your account
Lost your password?

Lost Password

Back to login

logo

Header Banner

Signal Todays

  • Beranda
  • News
  • Pendidikan
  • Loker
  • Olahraga
  • Politik
  • Lifestyle
    • Film
    • Kesehatan
    • Tips and Trik
  • Traveller
  • UMKM
  • Opini
    • Cendekia
  • Stadion Mini Mustika Jaya, Ruang Publik Sederhana yang Menghidupkan Kebersamaan Warga Bekasi

  • Sadar Investasi Selagi Muda sebagai Strategi Literasi Keuangan Berkelanjutan

  • Transisi Penggunaan DJP ke Coretax: Transformasi Digital Administrasi Perpajakan Indonesia

  • Forest Hub LRT Jatibening, Ruang Hijau Urban Baru Penyeimbang Aktivitas Perkotaan

  • Teror Bom Molotov terhadap Influencer DJ Donny: Ancaman Nyata di Era Digital

  • Menyambut Tahun Baru di Bekasi: Tempat Favorit Tahun Baru Bekasi. hingga Cerita Mahasiswa

  • Alun-Alun Edu Forest Bekasi Jadi Favorit Warga Dua Hari Jelang Tahun Baru

  • Maarten Paes Jawab Rumor Kepindahan ke Persib Bandung: Klarifikasi di Tengah Isu Bursa Transfer Liga Indonesia

  • Rahasia di Balik Keindahan Shalawat

  • Alumni Bicara: SMK Industri Kreatif Bukan Sekadar Sekolah, Tapi Titik Awal Masa Depan Kami

CendekiaOpini
Home›Opini›Cendekia›Banjir Tanpa Sebab, Kayu Tanpa Asal: Ketika Negara Menyangkal Jejak di Hulu

Banjir Tanpa Sebab, Kayu Tanpa Asal: Ketika Negara Menyangkal Jejak di Hulu

By Daya
21 December 2025
90
0
Share:
Banjir Tanpa Sebab, Kayu Tanpa Asal: Ketika Negara Menyangkal Jejak di Hulu

Oleh Suhardi | Dosen Universitas Bina Sarana Informatika

signaltodays.com_ Penyebab Banjir Sumatra akibat Pemerintah lalai. Ada pemandangan yang sulit diabaikan dari Aceh Tamiang: ribuan batang kayu gelondongan menumpuk rapi, tertahan bangunan pesantren. Seolah sungai berubah menjadi jalur distribusi kayu raksasa. Namun di tengah visual yang nyaris tak terbantahkan itu, negara justru menyampaikan satu kesimpulan yang terdengar meyakinkan sekaligus menggelitik nalar Penyebab Banjir Sumatra tidak berkaitan dengan pembalakan liar.

Pernyataan ini tentu patut dicatat sebagai prestasi narasi. Sebab, jarang sekali kita menyaksikan kayu-kayu berdiameter besar mampu berpindah dari hulu ke hilir, melintasi sungai dan desa, tanpa pernah bersentuhan dengan aktivitas manusia. Jika benar demikian, maka kita mungkin harus merevisi banyak buku pelajaran tentang ekologi, sebab-akibat, dan logika dasar.

Kementerian Kehutanan—dengan segala otoritas dan perangkat datanya—seolah ingin meyakinkan publik bahwa banjir hanyalah peristiwa alamiah yang berdiri sendiri. Hujan turun, sungai meluap, kayu kebetulan ikut hanyut. Sederhana, bersih, dan bebas dari campur tangan manusia. Masalahnya, alam jarang bekerja sesederhana siaran pers.

Dalam konteks Sumatra, banjir bukanlah cerita baru. Hampir setiap tahun, wilayah-wilayah di Aceh, Sumatra Barat, hingga Sumatra Selatan menghadapi pola yang sama. Hujan lebat, sungai meluap, lalu kayu-kayu besar muncul entah dari mana. Anehnya, pola ini terus berulang, sementara penjelasan resminya nyaris tak pernah berubah.

Baca Juga: Pertemuan Antara Rasa dan Makna

Tentu, tidak semua banjir disebabkan pembalakan liar. Itu benar. Namun menafikan hubungan antara kerusakan hutan dan bencana hidrologi sama berbahayanya dengan menutup mata saat alarm berbunyi. Ketika daerah aliran sungai kehilangan tutupan hutan, tanah kehilangan daya serap, dan kayu-kayu tak lagi tertahan di hulu. Maka banjir bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan.

Mulut Pemerintah yang tak Peka

Alam tampak bekerja lebih jujur dibanding birokrasi. Ia menghadirkan bukti visual: kayu gelondongan, lumpur, arus deras, dan kerusakan. Sementara negara justru sibuk memilah diksi—apakah ini “pembalakan liar”, “kayu terbawa arus”, atau sekadar “material alami”. Seakan-akan bencana bisa diredam dengan pilihan kata yang tepat.

Bagi masyarakat di hilir, perdebatan istilah ini terasa jauh dari realitas. Mereka kehilangan rumah, akses jalan, air bersih, bahkan rasa aman. Pesantren yang tertimbun kayu mungkin menjadi simbol ketahanan, tetapi juga menjadi monumen sunyi dari kegagalan pengelolaan hutan di hulu.

BacaJuga: Penipuan Berkedok Cluster Syariah di Kabupaten Karawang

Kementerian Kehutanan seharusnya tidak sekadar hadir sebagai juru bicara yang menenangkan. Publik menunggu lebih dari itu: transparansi data, penelusuran asal kayu, evaluasi izin konsesi, dan keberanian menyebut masalah dengan nama aslinya. Sebab, menyangkal masalah tidak akan membuatnya hilang; ia hanya menunggu hujan berikutnya.

Jika setiap banjir selalu dianggap sebagai peristiwa alam murni, maka kita sedang membangun tradisi berbahaya. Tradisi mengulang bencana tanpa pernah belajar. Negara tidak kehilangan wibawa ketika mengakui keterkaitan antara kebijakan, pengawasan hutan, dan dampak lingkungan. Justru sebaliknya, wibawa runtuh ketika publik merasa kecerdasannya diremehkan.

Aceh Tamiang hari ini bukan sekadar kabar banjir. Ia adalah cermin. Pertanyaannya, apakah kita berani menatap pantulan itu—atau kembali menyalahkan hujan, sambil membiarkan kayu-kayu berikutnya bersiap hanyut?

Tagsbanjir Aceh Tamiangbanjir dan deforestasibanjir Sumatra pembalakan liarkayu gelondongan Acehkementerian kehutanan Indonesiakerusakan hutan Sumatrakritik kebijakan kehutananlingkungan dan kebijakan publikpembalakan liar Indonesiatajuk rencana lingkungan
Previous Article

Dampak Negatif Screen Time Berlebihan bagi Anak ...

Next Article

SMK Industri Kreatif, Sekolah Vokasi Modern Pencetak ...

0
Shares
  • 0
  • +
  • 0
  • 0
  • 0
  • 0

Daya

Related articles More from author

  • Lautan Kayu Gelondongan Tertahan di Bangunan Pesantren
    News

    Lautan Kayu Gelondongan Tertahan di Bangunan Pesantren, Banjir Aceh Tamiang Jadi Sorotan

    19 December 2025
    By Daya
  • pelatihan literasi digital untuk santri
    CendekiaPendidikan

    Pelatihan Literasi Teknologi: Santri Yayasan Rumah Harapan Kuasai Pengelolaan Database

    18 March 2025
    By Daya
  • signaltodays hari santri nasional
    OpiniPendidikan

    Merayakan Hari Santri Nasional: Menelusuri Keunggulan Pendidikan Islam ala Pesantren

    22 October 2024
    By Daya
  • Cara Efektif Mengelola Waktu Antara Kuliah dan Kegiatan UKM
    CendekiaPendidikan

    Cara Efektif Mengelola Waktu Kuliah dan UKM

    17 October 2024
    By Daya
  • Mengenal Tahapan Penelitian Ilmiah: Panduan untuk Mahasiswa dan Siswa SLTA
    Cendekia

    Mengenal Tahapan Penelitian Ilmiah: Panduan untuk Mahasiswa dan Siswa SLTA

    5 June 2024
    By Daya
  • CendekiaOpini

    Program Adiwiyata: Membangun Kesadaran Lingkungan Demi Masa Depan Alam yang Berkelanjutan

    30 September 2024
    By Daya

Artikel Terbaru

  • 14 January 2026

    Stadion Mini Mustika Jaya, Ruang Publik Sederhana yang Menghidupkan Kebersamaan Warga Bekasi

  • 13 January 2026

    Sadar Investasi Selagi Muda sebagai Strategi Literasi Keuangan Berkelanjutan

  • 12 January 2026

    Transisi Penggunaan DJP ke Coretax: Transformasi Digital Administrasi Perpajakan Indonesia

  • 8 January 2026

    Forest Hub LRT Jatibening, Ruang Hijau Urban Baru Penyeimbang Aktivitas Perkotaan

  • 3 January 2026

    Teror Bom Molotov terhadap Influencer DJ Donny: Ancaman Nyata di Era Digital

logo

SignalTodays adalah situs berita online Indonesia yang dipublikasikan oleh PT. Signal Indonesia.

Situs berita online dengan tagline “Transparan dan Terpercaya”

Tentang Kami

  • Informasi Publish Berita : 0812 81818 516
  • info@signaltodays.com
  • Tim Redaksi

Ikuti Kami

  • Tim Redaksi
© Copyright SignalTodays. All rights reserved.